Orangtua yang anaknya menyandang down syndrome (DS) kini tidak perlu
berkecil hati. Brain gym alias senam otak ternyata bisa menambah
kecerdasan anak DS.
"Memang belum ada parameter, tapi jika dilakukan konsisten, dampaknya
besar sekali. Makanya harus dilakukan sejak dini. Brain gym juga bisa
membantu anak-anak khusus," ujar Dr Atilla Dewanti SpA dari Klinik
Khusus Tumbuh Kembang/KK Neurologi Anak RSAB Harapan Kita, Jakarta.
Atilla menyampaikannya dalam roadshow Huggies Fun House yang bertema
Menstimulasi Memori Bayi Melalui Baby Brain Gym, di Gedung Prefere,
Kemang Timur, Jakarta, Sabtu 18 Agustus 2007.
Kecerdasan anak-anak DS, imbuh Atilla, biasanya setengah dari kecerdasan
anak normal. "Tapi jika senam otak ini diberikan secara kontinu kepada
mereka, bisa memicu kecerdasannya menjadi 3/4. Ini sudah banyak
terjadi," kata Attila.
Dia menyarankan, sebaiknya baby brain gym dilakukan oleh orang yang
memiliki pertalian erat dengan si anak, seperti ibu dan bapak alias
keluarga intinya, sehingga bisa menambah erat hubungan anak dan
orangtua.
Sesuai standar Educational Kinesiology yang dikembangkan Dr Paul E
Dennison, brain gym memiliki tiga dimensi pelatihan, yakni dimensi
lateralitas (kiri-kanan), dimensi centering (pemusatan), dan dimensi
fokus.
Langkah pertama melakukan brain gym disebut PACE (positive, active,
clear, energetic) yang terdiri dari empat aktivitas sederhana, yakni air
(ASI), saklar otak, homolateral/gerakan silang, dan kait relaks.
Untuk bayi usia 6-12 bulan, gerakan saklar otak dilakukan dengan memijit
dua titik di bawah clavicular kiri-kanan atau tulang di bawah leher.
Sementara tangan lain memegang pusar. Ini bertujuan untuk mengaktifkan
sisi otak kiri dan kanan, sehingga meningkatkan energi ke mata.
Gerakan kedua disebut tombol bumi, yakni memijat titik di bawah bibir
dan tangan lain di tulang kemaluan. Gerakan ini untuk mengaktifkan
energi di otak tengah, menyeimbangkan emosi, mengaktifkan kemampuan
melihat atas dan bawah.
Selanjutnya gerakan tombol angkasa yang memijat titik di atas bibir
bawah dan tangan lain memegang tulang ekor untuk mengaktifkan energi ke
otak, menyeimbangkan kemampuan melihat jauh dan dekat, serta
menyeimbangkan emosi.
Gerakan terakhir adalah homolateral, yakni menggerakkan kiki kiri dan
tangan kiri bergantian dengan sisi yang lain secara pasif untuk
mengaktifkan spesialisasi otak kiri dan kanan.
Sementara untuk anak usia 13 hingga 24 bulan, selain empat gerakan
tersebut juga dilakukan gerakan silang, dengan menggerakkan kaki kiri
dan kanan secara bergantian untuk mengaktifkan otak kiri dan kanan
secara simultan dan menyeimbangkan fungsi kedua belahan otak.

No comments:
Post a Comment